• Main
  • News

Kuliah Subuh Pagi Ni

Kuliah Subuh Pagi Ni

KULIAH SUBUH pagi ni
SABTU 14 RabiulAkhir 1448H
Oleh Ustaz Hj Md Khairi Abd Aziz
Kitab Aqidatun Najin
Masjid Ayer Molek

Adakah Al-Quran itu kalam Allah atau makhluk.

Menurut akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, khususnya manhaj al-Asy‘ariyyah dan al-Maturidiyyah, Al-Quran ialah Kalam Allah yang qadim, bukan makhluk.

Ringkasnya

1. Al-Quran adalah Kalam Allah. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Dan jika seseorang daripada orang-orang musyrik meminta perlindungan daripadamu, maka berilah perlindungan kepadanya sehingga dia sempat mendengar Kalam Allah.”
— Surah al-Tawbah, 9:6

2. Kalam Allah bukan makhluk Allah SWT adalah al-Khaliq (Pencipta), manakala selain Allah adalah makhluk. Kalam Allah merupakan sifat Allah, bukan sesuatu yang diciptakan seperti makhluk.

Dalam ilmu tauhid, sifat Kalam termasuk dalam Sifat Ma‘ani yang wajib bagi Allah.

3. Bagaimana dengan mushaf, tulisan dan suara kita? Di sini perlu dibezakan:

- Kalam Allah → bukan makhluk.

- Tulisan Al-Quran pada kertas/mushaf → kertas, dakwat dan bentuk tulisan itu adalah makhluk.

- Suara kita ketika membaca Al-Quran → suara kita adalah makhluk.

- Makna/kalam yang dibaca dan ditunjukkan oleh Al-Quran → Kalam Allah, bukan makhluk.

- Jadi, apabila kita membaca Al-Quran, suara kita adalah baharu/makhluk, tetapi Al-Quran yang kita baca adalah Kalam Allah.

Dalam ungkapan mudah
Allah = Pencipta.

- Kalam Allah = sifat Allah, bukan makhluk.

- Mushaf, dakwat, kertas dan suara pembaca = makhluk.

Sebab itu ulama sangat berhati-hati dengan ungkapan “Al-Quran itu makhluk.” Ungkapan tersebut ditolak dalam akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Ini penjelasan yang sesuai dengan perbahasan ilmu Tauhid/Aqidatun Najin.

1. Apakah maksud Kalam Allah?

- Dalam sifat 20, Kalam ialah sifat Allah yang dengannya Allah menyatakan segala yang wajib, mustahil dan harus.

- Allah mempunyai sifat Kalam yang qadim — tidak bermula dengan masa dan tidak didahului oleh ketiadaan.

Allah berfirman:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

“Dan Allah telah berkata-kata kepada Nabi Musa dengan sebenar-benar perkataan.”
Surah al-Nisa’: 164

2. Kalam Nafsi dan Kalam Lafzi

Ini bahagian yang penting.

- Kalam Nafsi ialah Kalam yang berdiri pada Zat Allah. Ia qadim, bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa seperti pertuturan makhluk.

Contohnya, Allah mengetahui dan menyatakan suatu hukum: “Solat itu wajib.” Makna Kalam Allah itu tidak bergantung kepada suara atau huruf.

- Kalam Lafzi pula ialah ungkapan yang menunjukkan atau menceritakan Kalam Allah, seperti:

أَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dirikanlah solat.”

Huruf, suara dan bacaan yang kita lafazkan adalah baharu (makhluk). Tetapi Kalam Allah yang ditunjukkan oleh lafaz tersebut adalah Kalam Allah, bukan makhluk.

3. Jadi, apabila kita membaca Al-Quran?

Contohnya kita membaca:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Suara kita adalah makhluk. Lidah kita makhluk. Udara yang menghasilkan suara juga makhluk.

Tetapi Al-Quran yang kita baca adalah Kalam Allah.
Sebab itu jangan menyamakan antara Kalam Allah dengan suara manusia ketika membaca Kalam Allah.

4. Bagaimana Al-Quran boleh ditulis dalam mushaf?

Mushaf mempunyai:
kertas → makhluk
dakwat → makhluk
tulisan → baharu
suara pembaca → makhluk

Tetapi apa yang ditunjukkan dan ditunjukkan maknanya oleh semua itu ialah Kalam Allah.

Analogi mudah: tulisan “Allah” bukan Zat Allah, tetapi tulisan itu menunjukkan kepada nama Allah. Begitu juga tulisan Al-Quran menunjukkan kepada Kalam Allah.

5. Kenapa disebut Al-Quran itu “Kalam Allah”?

Kerana Allah sendiri menisbahkannya kepada diri-Nya:

حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ

“Sehingga dia mendengar Kalam Allah.”
— al-Tawbah: 6

Maka pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah ialah:

- Al-Quran = Kalam Allah, bukan makhluk.

Dan apabila kita memperincikan:

- Kalam Allah pada hakikatnya → qadim dan bukan makhluk.

- Lafaz, suara, kertas, dakwat dan tulisan kita → baharu/makhluk.

Ringkasan untuk tazkirah
“Al-Quran adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Kalam Allah itu qadim kerana ia merupakan sifat Allah. Adapun suara kita ketika membaca Al-Quran, tulisan, dakwat dan kertas mushaf semuanya adalah makhluk. Jangan mencampurkan antara Kalam Allah dengan alat yang digunakan untuk menyampaikan dan membacanya.”

Ini juga berkait rapat dengan Sifat Kalam dalam Sifat 20 dan istilah Ta‘alluq Suluhi Qadim dan Ta‘alluq Tanjizi Qadim yang biasa dibincangkan dalam Aqidatun Najin.